Rabu, 30 Agustus 2023

Aku bukan pilihan

Aku bukan pilihan
Jika kamu menempatkanku pada posisi itu
Maaf kau tak akan mendapatkanku
Sekali saja kamu dibuat bingung atas sebuah pilihan
Aku mundur
Karena memang aku bukanlah orang yang bisa dijadikan pilihan
Aku hanyalah aku



Jumat, 10 April 2020

meraba taqdir

Tentang seseorang yang menjaga dirinya dari tersentuh yang bukan jodohnya kelak.
Dia adalah seseorang yang nggk mau tangan dan wajahnya tersentuh pria sembarangan, bahkan teman dekat sekalipun.
Banyak temen pria yang mengatakan padanya untuk tidak sok sok an seperti itu, perempuan itu hanya tersenyum melihatnya
Jauh dalam hati si perempuan, kau tidak akan pernah tau kenapa aku seperti ini sampai kau jadi seorang perempuan.
Perempuan ini memang bukan dari keluarga yang begitu faham agama, namun dia menyadari kekurangan itu, hingga dia menjaga dirinya dari perbuatan yang kelak akan mencerminkan anak turunnya, atau jauh sebelum itu, jodohnya.
Ya, perempuan itu teramat yakin akan janji Alloh yang akan memberikan jodoh yg baik untuk seseorang yang baik, pun jodoh yang menjaga diri untuk yang menjaga diri.
Rasanya perempuan itu punya keinginan yang teramat dalam akan masalah jodoh, yakni yang seperti dirinya, yang menjaga untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis tanpa udzur yang benar benar urgent atau tidak sengaja
Perempuan itu menutup diri untuk setiap pria yang datang padanya, namun sikap dia yang aktif di sosial media membuat dia terkesan terbuka terhadap siapa saja yang datang untuk mengenalnya
Satu per satu pria memahami bagaimana perempuan tersebut, dari yang mulai diberi penjelasan hingga yang peka sendiri.
Hingga musim pernikahan tiba, satu per satu temannya menikah, dia pun menghadiri sebagai tamu undangan.
Disalah satu acara pernikahan itu dia berfoto bersama dengan pengantin, kemudian salah satu temannya meminta bunga melati yang dikalungkan di pengantin pria, pengantin pria itu memberikannya ke perempuan tersebut, seketika temannya mengatakan bahwa perempuan tersebut akan segera tertular, kata mitos yang beredar.
Mendengar pernyataan itu, perempuan tersebut memberikan bunga itu ke temannya.
Selepas acara itu, ia melupakan mitos tersebut dan kembali ke rumah.
Keesokan harinya ia menonton tv dirumah, kemudian ibunya mendatangi dengan memulai membuka obrolan.
"Ada seorang ibu yang menanyakanmu nak, mau tidak kalau nikah dengan anaknya, ibuk kira dia bercanda tapi ternyata tidak" ibunya mulai bertanya dengan sedikit bergurau
dia pun hanya bisa tertawa, sambil berfikir dalam hati "haduh, masak iya karna mitos itu".
Seketika obrolan itu berakhir tanpa jawaban dan dia pergi mengerjakan tugas kuliahnya.
Berhari hari setelah pertanyaan itu, dia terus saja terbebani oleh itu. "Masak iya ini cara Tuhan menyatukanku dengan jodoh, apa iya dia jodohku" dia bergumam sendirian tanpa tindakan dan jawaban.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada anak si ibuk yang memintanya nikah dengan anaknya.
Perlahan tapi pasti, dia mendapatkan jawaban itu, namun dia tidak tau mana kebohongan dan mana kejujuran.
Faktnya, pria tersebut mengatakan bahwa dia yakin ikut dengan pilihan ibunya, toh pria tersebut juga pernah menyukai perempuan tersebut. Dengan jawaban "bismillah aku yakin, aku faham nikah itu serius, dan aku ikut pilihan ibuku"
Entah mengapa dia(perempuan tersebut) pun menjawab "bismillah aku mau kalau begitu". Namun dia masih menyimpan banyak tanya, karena dia belum mengenal dekat dengan pria itu, mulai dari sikap, perilaku, hal2 yang mungkin tidak bisa diterima jika kelak jadi menikah.
salahnya, dia menjawab seperti itu tanpa istikhoroh dulu, pikir2 dulu, seperti jawaban spontan yang langsung terucapkan.
Akhirnya disetiap sholat dia hanya meminta pada Tuhan, jika memang pria tersebut adalah jodohnya, dia meminta agar dijaga dari perbuatan maksiat sebelum mereka halal, dan dipermudahkan agar segera halal. Namun jika pria tersebut bukan jodohnya, dia meminta agar diberi petunjuk dan diberikan kelapangan dada untuk menerima kenyataan itu di hati semua pihak yang terlibat, termasuk ibu dari pria tersebut.
Perempuan itu semakin hari semakin tau bahwa banyak hal atau hampir semua sikap dari pria itu tidak disukainya.
Hingga akhirnya dia berfikir akan masa depannya, tentang menikah dengan orang yang sangat tidak disuka sikapnya.
Diapun bertanya tentang sikap pria kepada teman prianya yang dipercaya, hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa dia tidak akan bisa merubah sikap pria itu menjadi yang ia mau.
Akhirnya, dia memutuskan untuk memberanikan diri membuka diskusi dengan pria tersebut.
Dipertengahan diskusi tersebut, dia mengutarakan bahwa dia ingin mencabut semua pernyataan dia untuk masa depan mereka, namun pria tersebut seperti tidak menghendaki namun juga memberi pernyataan yang membuat perempuan itu yakin untuk meninggalkannya "aku pasti bisa berubah, tapi kalau sekarang aku belum bisa" katanya.
Perempuan itu tersadar bahwa pria tersebut hanya main2 dengan pernyataannya dulu, lalu mengapa dia harus serius menanggapinya.
Dia seperti tersadar bahwa menghadapi pria tersebut dia menjadi sangat beda, yang dulu dia cuek, nggk percaya samaomongan pria, males bicarain hal serius, itu semua menjadi kebalikannya ketika menghadapi pria tersebut.
Kini, dia kembali menjadi dirinya yang dulu, yang terkesan tidak pernah serius, cuek masalah cinta, dan menjaga diri dan hatinya untuk yang akan halal baginya.
Perempuan itu kini sadar, mungkin itu cara Tuhan mengajarkan bahwa tidak semua orang hadir untuk dia, terkadang dia hadir untuk mereka.
Dia berusaha melupakan semua pernyataannya pada pria itu dan membuang rasa bersalah karena telah membuka diri untuk pria yang tidak baik menurutnya.
Sekian, to be continou...

Sabtu, 11 Januari 2020

RASA YANG TERBRANGKAS


           Aku hanyalah insan yang tak mengerti arti cinta secara sempurna. Bagi mereka cintaku padamu sempurna, tapi bagiku tidak sesempurna itu. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa mengharap balasan rasa darimu atau bahkan rasa cinta. Aku tak pernah mengungkapkan rasa sederhana ini karena kau tak akan menghiraukan apa yang kurasa. 7 tahun sudah kita bersama dalam jarak dan 5 tahun sudah kita berpisah dalam jarak. Aku tetap saja dengan rasa yang sama walau tanpa komunikasi seintensif dahulu kala.
            Konon, waktu kita masih bersama dalam jarak, aku cukup menemanimu saat kau susah maupun bahagia. Aku terima saat kau datang dengan seribu luka dan aku berusaha mengobatinya. Walau banyak diantara mereka yang juga mengobati luka yang kau derita aku tiada menyerah, bagiku mengobati lukamu adalah kewajianku. Konsekuensi dari rasa yang kusimpan lama adalah aku harus melindungimu dari jarak jauh sekalipun.
            Aku takkan mampu melihatmu menangis walau hanya satu tetes air mata, hingga terkadang aku menjauh darimu karena aku tidak mau kau melihatku terluka. Saat kau terluka begitu dalam, akulah orang yang hampir dijemput ajal akan pedihnya luka yang kau rasakan. Seakan lupa bahwa saat kau bahagia aku mungkin menjadi orang kesekian juta dari orang yang kau beri kabar akan kebahagiaanmu, aku tak mengapa. Aku sadar bahwa aku hanyalah satu diantara ribuan orang yang ingin menjadi berarti dihidupmu. Aku tahu aku bukanlah manusia sempurna.
            Jarak dan waktu mulai sedikit menjadi alasan kau jarang mengabariku akan keadaanmu. Bahkan aku tidak mengerti lagi apa yang telah kau lalui dan apa yang kau jadikan impian dimasa yang akan daang.  Dulu, kita akan bersama ditempat yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Namun, kiranya harapan ini semakin dalam luka pun semakin dalam kurasakan. Betapa tidak kecawa, waktu pun tidak bisa mengubahnya. Waktu semakin bertambah jarak pun semakin bertambah, komunikasi semakin berkurang dan harapan ini mulai terkikis derasnya ombak keadaan.
            Dulu sempat kau katakan, “bagaimana jika aku dan kau menemukan seseorang yang masing-masing kita cintai dan orang itu bukan kita sendiri, apakah kita harus berpisah ? dengan alasan menjaga perasaan orang yang kita cintai tersebut.” Aku hanya menjawab tidak tahu, karena aku tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Sejenak setelah perkataanmu tersebut aku mulai berfikir apakah kau sudah menemukan seseorang yang membuat hatimu terpaut. Seketika aku takut kehilanganmu. Apakah waktu yang kita lalui bersama tidak cukup membuat hatimu terikat pada satu hati yang menunggumu ini. Waktu yang kuhabiskan bersamamu telah kuhabiskan untuk membuatmu tersenyum dan terikat. Namun tak sedikitpun kau terikat ? aku kecewa terhadap waktu bagaimana bisa? aku sudah menyewanya lama untuk membuatnya terikat tapi malah ada orang lain yang hanya meminjam sedikit waktu darinya mampu membuatnya berkata seperti itu padaku.
            Beberapa hari setelah pertanyaanmu tersebut aku tidak mengabarimu walau hanya sebentar. Bahkan aku mulai tak menghiraukan telfonmu. Aku tak mengerti apa yang kulakukan kala itu. Aku tidak berusaha menghindarimu, mungkin aku hanya sedikit berusaha merelakan jika keadaan itu benar terjadi. Selang beberapa waktu aku memang tidak bisa berpura-pura menjauh darimu. Akupun kembali membalas chattingmu mengangkat telfonmu dan kembali bercerita akan keseharianku. Hingga aku lupa akan luka yang pernah kau lakukan tanpa kau sengaja .
            Disaat aku lupa bahwa aku pernah terluka hingga saat itu mungkn aku paling bahagia daripada waktu-waktu yang telah kulalui sebelumnya. Aku bahagia karena bisa menghabiskn waktu 24 jamku dengamu ditempat yang aku suka. Beberapa jam setelah aku berpisah denganmu aku mendapati sosial mediamu memosting sesuatu yang telah kita lewati hanya saja dengan caption sederhana “terimakasih atas waktunya”. Aku menanggapi hal tersebut dengan biasa. Beberapa menit kemudian kau membuat story dimedia sosialmu bahwa kau mengupload foto seorang wanita dengan caption “jika perjuangan tak lagi dihiraukan mungkin ini saatnya diam dan berhenti dipersimpangan”
            Aku tidak bisa berkata-kata, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya terdiam. Inilah jawaban waktu akan pertanyaanmu kala itu. Ada seseorang yang sedang kau perjuangkan dalam diamku memendam perasaan. Akhirnya aku menenangkan diriku dengan sejuta kata yang kuuntai sendiri. Tenang far, jika kau mencintainya kau tidak akan kecewa dengan keputusannya. kau harus sabar seperti kau dengan ikhlas memendam perasaan berahun-tahun lamanya. Jangan kau hancurkan kesabaranmu dalam mencintainya hanya karena orang yang tidak bisa kau salahkan karena telah hadir dihidupnya. Hidup orang yang kau cinta. Kini aku tetap dengan rasaku yang sederhana, tanpa menuntutnya bersamaku. Mencoba mengobati luka yang kutorehkan sendiri. 

ef_ai

Minggu, 28 Juli 2019

ciptakan kekuatan


Saat semangat mulai surut. Saat putus asa mulai menghampiri, baca tulisan ini.

            Kuliah, adalah hal yang mungkin menjadi impian setiap anak SMA yang sudah mempersiapkan masa depan. Bahkan mereka yang tidak tau mau jadi apa jika dia kuliah. Semua anak pasti ingin kuliah. Mulai dari yang pintar sampai yang nggak pintar, mulai dari anak orang kaya maupun anak orang kurang berada. Mulai dari mereka yang ingin kuliah untuk membahagiakan kedua orangtuanya sampai mereka yang kuliah karena ingin melanglang buana.
Dan kini, kau berada diposisi yang mereka inginkan, posisi dimana kebanyakan orang telah mempersiapkannya sejak dia masih kecil.

            Jika tempat kuliahmu saat ini adalah tempat yang kau impikan, bersyukurlah, Karena tak banyak yang bisa seberuntung kamu. Saat kau mengeluh karena kuliah yang kau bayangkan tak seindah yang kau hayalkan. Sekali lagi ingatlah mereka yang menginginkan berada diposisimu,mereka yang berjuang keras untuk menempati tempat yang sekarang kau duduki. Bahkan mereka yang sudah rela, ikhlas melupakan impiannya karena mereka tak seberuntung kamu.

            Jika tempatmu kuliah sekarang adalah pilihanmu dinomer 2/3 tapi kamu memang berharap masuk ke situ meskipun bukan pilihan pertama. Ingat, mereka yang menempatkan pilihanmu yang ke 2/3 itu menjadi pilihan pertamanya, mereka ingin sekali masuk ke tempat yang kamu nomer 2 atau nomer 3 kan. Ingat, bahwa apa yang kamu kesampingan ternyata menjadi prioritas utama bagi orang lain. Bersyukurlah karna kau lebih beruntung daripada mereka.

            Jika tempatmu kuliah sekarang ini bukanlah tempat yang kamu prioritaskan atau bahkan kamu nomer duakan. Bahkan, lebih buruk. Tempatmu kuliah sekarang ini adalah pilihan terakhirmu. Entah apapun alasannya, hanya untuk mengisi pilihan terakhir, atau karena takut nggak kuliah, atau karena daripada nggak diterima dimana-mana,atau bahkan karena gengsi. Ingat apa yang kamu tempati saat ini yang kau anggap remeh, sepele, rendah, terpaksa. Ingat mereka yang tidak seberuntung kamu, meskipun mereka sudah berusaha untuk mencari dan terus mencari kampus mana yang akan menerima mereka. Ingat, ada sang pencipta yang pasti telah menentukan rencana indah dibalik perjalananmu yang terpaksa ini.

            Alloh lah yang membawa namamu masuk ke Universitas tersebut. Maka, yakinlah bahwa Alloh pasti punya rencana yang tidak hambanya ketahui. Dia Maha Tau. Mungkin Dia menyiapkan masa-masa yang indah setelah perjalanan berlikumu, setelah perjuangan kerasmu, setelah keikhlasanmu menjalani takdirNya. Alloh lah yang membawa namamu masuk sebagai salah satu mahasiswa tempat dimana kamu menuntut ilmu sekarang.

            Jika kamu tidak bisa menjalani nya dengan senyuman, jika disetiap langkahmu masih terbesit seribu keluhan, jika disetiap perbuatanmu masih tersimpan sebuah penyesalan. Coba bawa nama Alloh disetiap langkahmu menjalani perjalanan tersulitmu, perjuangan terberatmu, dan pengorbanan terAgungmu.

            Bawalah Alloh disetiap langkahmu. Perlahan keluhan itu akan berakhir, kesulitan itu akan mudah, kepahitan itu akan manis. Perlahan kau akan mengatakan "setidaknya aku lebih beruntung daripada orang lain, setidaknya aku masih bisa menjalani apa yang aku tidak suka, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan kesempatan orang lain" bukan karena kita bangga karena mendapatkan apa yang tidak orang lain dapatkan, tapi belajar mensyukuri apa yang terjadi.

            Perlahan kau akan ikhlas menjalani setiap perjuangan, kau akan tersenyum menjalani sebuah pengorbanan, kau akan meringankan langkahmu. Semua akan terasa lebih baik dari sebelumnya. Perlahan senyum itu akan sering kau torehkan dipipimu, semangat berkobar untuk menaklukkan rasa pahit itu, rasa berat itu, dan rasa malas itu.

            Senyumlah dan jalani apa yang sudah jadi jalan taqdirmu. Lakukan, sertakan Alloh disetiap hembus nafasmu. Bahkan kau tidak akan melihat bahwa ada gunung setinggi langit, laut sedalam alam yang tak dapat kau jangkau. Api seluas dunia.

            Tapi kau akan tersenyum sembari menengok ke belakang, dimana dirimu dengan seribu keluhan, dirimu dengan sejuta kemalasan, dirimu yang disebut sebagai wanita semilyar tangisan, kini telah tersenyum melihat langkahmu yang penuh dengan semangat.

            Dia(masa lalumu) akan berucap, teruslah melangkah wahai masa depan. sukai apa yang dulu tak kusukai. Lakukan apa yang dulu tak kulakukan dan Tersenyumlah karena dulu senyumanku hanya rekayasa hanya untuk menunjukkan luka yang kubalut dengan tawa.

            Jadilah 180 derajatku, jadilah antonimku. Aku (masalalumu) adalah orang yang tidak tau indahnya dunia. Tidak tau kerasnya kehidupan. Aku hanya tau keluhan, kesulitan, rintangan, dan keterpaksaan.

            Jadilah Pribadi yang bisa membuatku mengerti apa yang tak kumengerti. Masa depanku, Kamulah yang akan menjadikan senyum ini tulus terurai. Ingat, nafasmu hari ini mungkin adalah hembusan terakhir orang lain, Maka jangan mengeluh dan tersenyumlah menjalani taqdir ini.


Farich Nuril Syaifuddin

Jumat, 19 April 2019

mati menahan malu

malam itu kau menghampiriku sesuai permintaanku. aku menunggumu dengan segala kesabaranku. karena kau punya  jam yang terbuat dari karet kau selalu ijin telat dari rencana awal. saat menunggu kehadiranmu, ku aktifkan mode dering pada ponselku. dering telfonku adalah voice note darimu. ya, entah kenapa aku suka dengan suaramu. voice note itu seakan menjadi perwakilan hadirmu saat kesibukanmu. hingga ada pemberitahuan pesan masuk "far aku udah di depan", aku membalasnya secepat kilat, ok aku keluar. Aku selalu deg-degan saat ada kau menemuiku. pertemuan kita bukanlah pertemuan yang tanpa alasan sederhana. selalu ada alasan kenapa kita harus bertemu. ya, malam itu adalah malam dimana aku harus pulang tapi aku tidak bisa berkendara sendirian. tentu kau datang untuk memboncengku. "ayo, eh ini buat kamu" sambil memberikan kantong plastik kepadaku. aku hanya menjawabnya kenapa repot-repot sih, tak masukin jok ya. ketika bersiap-siap untuk berangkat, seketika ponselku berbunyi "dauuni, dauunii, unaajii habibii" begitulah nada deringku yang ku atur. seketika aku tersadar bahwa suara yang kujadikan nada dering itu orangnya ada di dekatku. seketika aku mati kutu dan aku bergegas berlari masuk kedalam rumah. aku malu sekali.  bagaimana bisa aku lupa mengganti mode getar pada ponselku. betapa bodohnya aku. dengan segala kebodohanku aku berfikir, dia dengar nggak yaaa. dia ingat nggk ya kalau ini vn dari dia. ribuan pertanyaan kini berterbangan memenuhi langit-langit pikiranku. seketika aku tersadar bahwa aku harus pulang jadi aku menyimpan rasa maluku dalam kantong plastik yang kubawa. aku bergegas keluar dan bilang, ayo berangkat keburu malam. dia pun diam dan langsung naik motor. lewat sini aja ya begitu katanya. aku cuma diam dan menahan malu serta ketawa atas kebodohanku yang tidak dibuat-buat ini.terimakasih sudah ada disaat kubutuh kamu. karena aku tahu pertemuan karena alasan yang tidak sederhana itu lebih indah. cuma ya itu, aku berharap agar pertemuan kita selanjutnya tidak dengan alasan yang sam seperti malam itu. tapi dengan alasan yang lebih rumit untuk dibahas dalam cerita.
aku suka caramu memperlakukanku saat bersamaku, bersama dalam nyata bukan pesan singkat semata. karena kita memnang tidak bersua dalam pesan singkat yang bernada.

Minggu, 31 Maret 2019

Aku dan pola pikirku

Kali ini aku kembali menjalanai hari hari seperti biasa terjadi. Namun kali ini ada yg sedikit berbeda, ada seseorang yang selalu membuatku tertawa dengan tulisan tulisannya dari pesan pribadi aplikasi wa. Entah kenapa, dia yang dulu tidak akrab kini menghiasi hari-hariku begitu ceria. Berbagi cerita tentang hari yang telah terlewati masing-masing diantara kita. Membangun imajinasi konyol yang lucu dan gila. Awalnya biasa saja, berbicara, tertawa bersama, kemudian diam entah kenapa. Ya, aku diam. Aku menghilang. Ada satu hal yang tidak mungkin bisa ku terima adalah sifat yang mengutamakan gaya hidup. Kita sangatlah berbeda. Aku dengan keapaadaannya aku, kau dengan keadaapaannya kamu. Kau selalu mengunggulkan yang unggul, kau selalu memikirkan bagaimana orang melihatmu. Sedangkan aku, just do it and love it, I don't care penilaian orang terhadapku. Awalnya kita membangun perusahaan, kau managerku, tapi karena sebegitu berantakannya kau mengingat akan jadwalku aku ingin memecatmu. Sebelum aku memcatmu ternyata kita membangun kerajaan, kerajaan tikus. Dimana aku tikus, dan kau raksasa yang saat kau lapar aku harus menjauhimu. 
Maaf, aku mengatakan itu pertama kali kepadamu, itu peringatan bahwa aku akan menjauh. Untuk maaf yang kedua kalinya, aku benar-benar menjauh. Semua akun yang terhubung denganmu, seketika terputus, namun aku memang tak menghapusnya, karena aku tahu itu adalah cerita.
Pertanyaannya ? Kenapa aku menjauh dan menghilang. Pertanyaan yang dari awal muncul dong. Alasan ini, cukup menjawab untuk yang dulu dulu juga. Aku selalu pergi dan menjauh saat masa ciye ciyenya.
Seperti yang kau tahu, aku punya hati. Hati punya rasa. Rasa ada karena ada. Aku takut keberadaanmu menjadi candu, hingga aku selalu butuh akan hadirmu. Jika aku selalu membutuhkanmu,aku takut ketidakhadiranmu membuatku tak seceria dulu. Aku terlalu egois untuk hatiku, aku tak ingin hatiku terluka akan saat-saat itu, maka ku buat jalan buntu dari perjalanan kita, lalu aku menghilang. Mungkin kau tetap dijalan buntu itu, atau juga kau kembali ke posisi awal lewat jalan yang telah kita lewati, namun sendiri.
Maafkan aku, aku pergi karena aku sendiri, aku tak mauhatiku sedih karena tuntutan yang kelak akan ku minta darimu.
Aku mengahncurkan semuanya, karena aku tidak yakin akan rasa yang selalu sama tiap harinya, kecuali mereka yang benar-benar setia.
Awalnya, berat dan aku sedih. Aku sedih karena aku merasa terlalu jahat untuk mengakhiri, tapi aku harus begini, agar hati tetap terjaga dari rasa sedih. Maafkan aku sekali lagi.
Bukan aku menjadikanmu bahan tulisanku, namun karena kisah ini aku menulis.
Mengertilah aku menjauh karena aku takut kehilangan, lebih baik aku menghilang.
Aku memang egois.
Dan satu yang membuatku yakin untuk pergi adalah kau dekat dengan orang dimasa laluku, seketika aku mencemaskan kehadiranmu. Begitu banyak pikiran negatif tentang kehadiranmu saat ini begitu menyiksaku sendiri.
Maafkan aku, tulung diam dan lupakan semuanya. 

Bye

Rabu, 20 Maret 2019

Siapa yang salah

Aku punya hati, hati yang sepeti jelly, mudah pecah dan mudah tersakiti.
Hatiku pernah dimiliki, hingga terkadang rindu menghampiri.
Meski kini kita tak bersama lagi, ada harapan yg kerap datang menghampiri.
Harapan akan pemenuhan sebuah janji, atas kebersamaan setelah penantian ini.
Aku percaya bahwa takdir sudah ditetapkan oleh Yang Maha Pengasih.
Namun hati ini mengaminkan apa yg pernah tertulis dan terkirim lewat phonsel ini.
Kasih, jika sekarang aku merindukanmu siapa yang salah.
Kau yang telah berjanji, atau aku yang berharap lebih.
Kasih, tak apa hati ini sendiri, namun bahagiaku tetap masih tergantung atas keputusanmu nanti.
Rindu yang selama ini ku nikmati kini terasa begitu sesak memenuhi relung batin ini.
Pertanyaan yang selama ini kusimpan rapi, sekarang berantakan menuntut jawaban.
Aku masih sendiri, seperti waktu itu kau meminta jawaban pasti.
Jawaban yg ku beri, yang telah membuat jarak kini terjadi.
Aku masih dengan rasaku yang dulu, saat kau tertawa bersamaku disaksikan senja yang perlahan pergi.
Aku merindukanmu sang penjaga hati.
Penjaga hati dari si penakluk hati yang tak pasti.
Aku bersyukur karena telah menelan penantian hingga kini.
Hingga aku terjaga dari salahnya jatuh hati
Lagi


Kau masih di hati

Senin, 12 November 2018

ternyata aku pelaku maksiat

       Beberapa hari ini aku tak bisa mendengar panggilan dari yang kucinta. Aku selalu tak mendengar akan panggilannya, sering kali aku berfikir kenapa seperti ini?. Kenapa aku tak bisa mendengar panggilannya lagi. Berbagai cara tlah kucoba agar aku dapat menemuinya, mencoba tetap sadar agar aku bisa berjumpa dengan Dia, aku berusaa tidak menutup mataku agar aku dapat menemuiNya kalaupun aku tak bisa mendengar panggilanNya, aku dalam keadaan tersadar. 
       Teringat ku akan ucapan seorang ustadz "orang yang tidak bisa terbangun dimalam hari itu karena maksiat yang dia lakukan dipagi hari ". Beberapa hari ini aku menjaga diriku agar tidak melakukan maksiat. Hingga selalu terbayang difikiranku, dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku tak mendengar panggilannya. Setiap ku melukai hati seseorang aku berusaha langsung minta maaf kali ini. Namun, tetap dalam fikiranku terngiang akan dosa yang telah kuperbuat hingga membuatku tak dapat mendengar panggilanNya lagi.



     Beberapa hari ini aku mengganti gambar latar belakang telfonku dengan foto seseorang yang kukagumi. Aku hanya senang jika setiap ku membuka telfon genggamku ada dia disana, motivatorku. Aku tak mengenal dia memang, dan dia juga tak mengenalku. Layaknya seseorang yg mengagumi seorang artis. Namun, yang kukagumi bukanlah orang yang terkenal hingga tak banyak yang mengetahui siapa dia. Ketenaran dia  bukanlah masalah bagiku, aku hanya mengaguminya.
      Pagi ini aku kuliah seperti biasanya. Berangkat ke kampus, kuliah, dan praktikum. Saat mengerjakan tugas di laboratorium aku membicarakan perihal kuliah kerja profesi dengan temanku. Kami membahas tentang perjinan untuk menjalankan kkp tersebut. Aku menghubungi dosen pembimbingku melalui whatsapp . Seketika temanku mengambil telfon genggamku untuk melihat jawaban dari dosen pembimbig kita . Ketika dia membuka telfonku, yang pertama kali dia lihat adalah wallpaper telfonku yakni foto dia. Seketika dia mengatakan "foto siapa itu chah, zina mata kamu" . aku hanya menjawab ringan "foto orang yg kukagumi, anggap saja artis korea yang dikagumi kebanyakan cewek". dia pun melanjutkannya "sama aja, maksiat mata kamu . orang Vivi aja kularang buat masang wallpaper artis korea lagi. kalau misal fotoku nggak papa, kan nanti aku akan menghalalkannya". seketika aku terdiam.




     Maksiat mata ? Aku sering melihat wajahnya ? tiap kali aku menatap layar telfon genggamku, aku melihatnya ? aku maksiat ? . Tuhan, terimakasih . . . Ternyata ini jawabannya. Walaupun dalam hatiku juga tidak membenarkan ucapan temanku tadi yang terkesan tak apa jika kelak akan dihalalkan. Menurutku kelak dihalalkan atau tidak, ya sama saja sekarang itu hukumnya maksiat. Iya kalau misal kelak dia memang jodohnya ? kalau tidak ? mereka kini bersama adalah apa kalau tidak maksiat ? ikhtiyar agar kelajadi halal ? J9odoh ditangan tuhan loh, ikhtiyar apa yang kamu lakukan, hanya menambah dosa. yag kesannya kita nggk pacaran kok. Tapi ada ikatan dengan ucapan kelak akan kulamar, dan kini kebersamaan sering terjadi . 



      Terlepas dari bagaimana pribadi seseorang yang mengatakan itu kepadaku, aku membenarkan apa yag dia ucapkan. Karena memang benar undzur maa qiila walaa tandzur man qoola . Lihat apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakan. Aku tidak peduli apakah dia yang menyalahkanku itu dalam keadaan yang tidak benar . Itu urusan dia, dia mengetahui bahwa itu tidak benar tapi tetap dilakukan, itu bukan urusan saya. Namun, dalam hati aku bersykur, melalui orang ini saya sadar akan kesalahanku. Dan mungkin dia adalah cara tuhan menyampaikan kerinduannya akan kelu kesaku, hingga aku sadar dan kembali menemuiNya dikala dunia telah sunyi.
       Berarti selama aku memasang fotonya menjadi wallpaper telfonku, itu berarti setiap aku menatap layar telfon genggamk aku maksiat, aku berzina . Ternyata, mungkin ini sebab beberapa hari ini aku sering tak menemuiNya dikesepianku. Kini, aku mengganti lagi wallpaper ku dengan hal lain yang bersifat motivasi. Semoga disaat dunia telah sunyi, kita dapat menemui kekasih kita dalam keadaan bahagia, aamiin.
Sekian tulisan kali ini, jika ada kesamaan naama atau cerita saya mohon maaf. Terimakasih sudah membaca.       

Selasa, 20 Maret 2018

Dia Berbeda tapi Dia Pilihanku

   Ketika aku melihatnya, ternyata dia adalah seorang yang kutemui di pom bensin. Dia tersenyum padaku dan menuju ke ibu itu kemudian mencium tangannya. Apa kabar bu? kata laki-laki itu. Ibunya pun hanya tersenyum bahagia melihatnya datang mengunjunginya.Aku pun mengatakan pada ibu itu bahwa laki-laki itulah yang memberiku brosur panti asuhan ini. Lalu dengan sopan, laki-laki ini membantah perkataanku. Maaf, saya tidak pernah memberikan brosur apapun ke anda, apalagi brosur panti asuhan ini, katanaya.

   Perbincangan itu berlanjut hingga akhirnya laki-laki itu terdiam. Dia berkata bahwa dia memang bertemu denganku namun disalah satu majelis ta'lim di surabaya, bukan di pom bensin. Dengan sabar ku menceritakan bahwa setelah kita bertemu di majelis itu, aku membeli bensin di SPBU dan aku lupa membawa uang dan bensin yang ku beli dibayar olehnya. Ketika aku berterima kasih dia memberiku brosur panti asuhan ini. Kemudian laki-laki itu terdiam, ibunya pun ikut masuk ke pembicaraan kami. Sudah jangan dibahas lagi, sebenarnya apa maksud kedatangan mbak kesini, tanya ibu tersebut. Aku pun mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke panti asuhan ini. Dengan sangat ramah ibu ini menyambut baik niat saya.

   Setelah urusanku di panti asuhan ini selesai, aku berpamitan kepada ibu itu dan beranjak pergi meninggalkan panti asuhan itu. Aku pun masih terfikir tentang laki-laki itu, apa dia lupa telah menolongku, tanyaku dalam hati. Aku pun kembali ke rumah dan membaca kembali brosur panti asuhan itu. Mungkin dia memang tidak mengingat-ingat kebaikan yang telah dia lakukan, gumamku dalam hati. Aku pun melupakan semua pertanyaan itu dari ingatanku.

   Keesokan harinya, aku berangkat ke taman wisata yang ada di Surabaya. Sungguh kebetulan yang sangat aneh, aku bertemu laki-laki itu di Taman Wisata tersebut. Aku hanya melontarkan senyum kepadanya dan berlalu. Laki-laki itu mengikuti langkahku dan bertanya padaku,
Dia  : Mbak, apa kabar ? ketemu lagi
Aku : baik, kan kemarin kita sudah bertemu
Dia  : maaf, kita bertemu? kemarin? dimana ?
Aku : aku hanya terdiam dan menghentikan langkahku
Dia  : kenapa mbak, kita bertemu dimana kemarin? kok mbak tidak menyapaku?
Aku : Entah aku yang terlalu mengingatnya, atau kamu yang tidak mengingat apapun yang telah kau lewati
Dia  : maksudnya, bagaimana ya mbak
Aku : lupakan saja, aku tidak ingin membahanya
Dia  : boleh saya menemani mbak disini ?
Aku : maaf, aku kesini ingin menenangkan diri, hanya sendiri
Dia  : tapi, saya ingin sedikit berbagi sama mbak
Aku : aku tidak lupa bawa dompet, dan aku tidak lagi butuh brosur panti asuhan
Dia  : itu tandanya, mbak mengizinkan saya menemani mbak
Aku : Maaf ya, apa kamu punya sakit ? pelupa misalnya?
Dia  : Menurut saya, saya adalah orang yang baik dalam hal mengingat, bahkan untuk hal kecil yang mungkin orang lain lupakan.
Aku : Lalu, keamarin kau mengatakan bahwa kau tidak pernah memberi brosur panti asuhan itu kepadaku? kau yakin kau baik dalam hal mengingat?
Dia  : ini kedua kalinya kita ketemu mbak, setelah di SPBU tersebut
Aku  : pertama, kita bertemu di majelis ta'lim, kedua kita ketemu di SPBU, ketiga di Panti Asuhan, dan sekarang di taman ini . Mungkin ingatanku lebih baik darimu.

   Aku bergegas pergi meninggalkannya. Bagaimana mungkin dia melupakan hal itu padahal menurut dia, dia adalah orang yang paling baik dalam hal mengingat.  Dia pun mengejarku dan mengatakan bahwa dia mengerti sekarang. Dia terus mengikuti langkahku sembari menceritakan bahwa yang aku temui di majelis ta'lim dan di panti asuhan itu adalah kakaknya. Dia bercerita bahwa dia adalah anak kembar yang terlahir sebagai adik. Dia bercerita bahwa kakaknya memang sering ikut majelis ta'lim tersebut. Seketika aku terdiam dan menghentikan langkaku.

   Aku pun duduk disalah satu kursi taman dan bertanya padanya tentang apa yang dia jelaskan tadi. Dia pun meminta maaf karena membuatku kesal dengan cerita ini. Aku yang tadinya berfikir bahwa laki-laki ini menjengkelkan seketika aku dapat menerima semua penjelasan dia. Inilah kenapa laki-laki di panti asuhan itu tidak mengenalku dan menolak keras bahwa dia memberiku brosur ini, karena memang bukan dia orangnya.

  Kami pun berkenalan disana dan bercerita tentang kisah kemarin yang membuatku bingung. Namanya adalah Akhdan dan kakaknya adalah Arghib . Di taman itu kita bercerita panjang lebar dan berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dia Akhdan adalah dokter disalah satu rumah sakit swasta di surabaya. Kami jadi lebih sering bertemu setelah kami berbagi cerita saat itu. Hari demi hari yang ku lalui dengannya semakin membuatku nyaman kepada akhdan.

   Satu bulan kemudian Akhdan mengutarakan niat baiknya untuk lebih serius melanjutkan hubungan ini, dia ingin segera menikahiku. Aku belum bisa menjawab pertanyannya karena aku masih berfikir ada cita-citaku yang belum terwujud. Tiba-tiba ponselku berbunyi, dan ternyata yang menelfonku adalah ibu. Sudah nak, terima saja ibu juga ingin segera melihatmu menikah, kata ibu ku di telfon tersebut. Aku kaget dan bertanya dalam hati, darimana ibu tahu. Telfon dari ibuku pun berakhir.

  Aku sudah kerumahmu kemarin, orangtuamu setuju dan mereka merestui pernikahan kita, bagaimana denganmu ? kau mau? , tanyanya dengan penuh harap. "Jika orangtuaku sudah merestui, aku siap menjadi pelabuhan terakhirmu" jawabku sambil tersenyum.

To be continou . . . .

Kamis, 15 Maret 2018

Pertama Ku Kenal dia

   Waktu itu aku sedang belajar ilmu agama disuatu majelis. Seperti biasa aku mengikuti kajian itu dengan niat untuk menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, dan mensyukuri ni'mat Alloh atas aql yang diberikan. Ketika acara selesai aku beranjak meninggalkan majelis menuju rumah. Tanpa disengaja, Diparkiran ada seseorang didepanku yang kunci mobilnya terjatuh dibawah kakiku. Aku tidak melihat bahwa aku menginjak kunci mobilnya kemudian pria itu berkata "Maaf mbak, kunci saya" sambil menunjuk ke kaki ku. Kemudian aku mengambilnya dan memberikan kepada pria itu dan meminta maaf. Pria itu tersenyum dan mengatakan bahwa itu bukan salah saya semua karena ketidaksengajaan. Aku pun membalas senyumnya seraya mengucap salam dan berlalu meninggalkannya. 

   Ditengah perjalanan pulang, bensin motorku hampir habis sehingga aku harus berhenti untuk mengisi bensin. Seperti pembeli bensin lainnya, aku langsung mengatakan aku ingin membeli bensin senilai sekian ribu. Ketika sudah terisi, aku mencari dompetku dan ternyata tidak kutemukan dompet itu ditasku. Karena aku merasa aku lupa membawa dompet aku meminggirkan motorku terlebih  dahulu sembari mencari lembaran uang yang harus kubayarkan. Tiba-tiba penjaga SPBUnya bilang padaku kalau uang bensinnya sudah dibayar. Aku kaget, aku tidak merasa membayarnya. Lalu kutanyakan ke penjaga SPBU itu siapa yang membayarnya. Bapak itu mengatakan bahwa seseorang di samping mobil itu yang membayarnya(sambil menunjuk ke arah seorang pria).

    Kebetulan yang luar biasa, pria yang membayari bensinku adalah pria yang kuncinya ku injak tadi. Ketika aku melihatnya dari jauh dia tersenyum dan hendak masuk mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Seketika aku langsung berjalan menghampirinya untuk berterima kasih. Ketika aku disamping mobilnya, dia tersenyum dan meminta maaf karena dia telah lancang membayar uang bensinku. Aku yang merasa tidak enak hanya bisa berkata "maaf merepotkan, boleh aku minta nomer rekeningmu? biar nanti aku transfer uang yang kau bayarkan tadi". 

     Tanpa berkata apa-apa dia membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah brosur di kursi mobilnya. 
Dia : Maaf mbak, sumbangkan saja uang mbak ke sini (sambil memberikan brosur panti asuhan), mereka lebih membutuhkan
Aku : Tapi, aku harus mengembalikan uangmu dulu
Dia : Aku tidak memberi uang itu mbak, tapi aku berbagi. Jadi lupakan saja.
Aku : Tidak bisa begitu dong mas.
Dia : Mbak datang saj ke panti asuhan itu(sambil beranjak masuk mobil dan meninggalkanku yang masih tidak enak hati)

    Sebulan setelah itu aku mengikuti kajian lagi dimajelis itu. Ketika pulang dan berada diparkiran aku teringat pria itu. Kemudian Aku mengambil kunci di tas, dan yang kulihat adalah brosur panti asuhan yang waktu itu dia berikan padaku. Tiba-tiba aku ingin mengunjungi panti asuhan itu. Tanpa berpikir lama, ku kendarai motorku menuju alamat yang tertera di brosur itu. Sesampainya aku diasana, aku masuk dan menuju kantor informasinya. Disana aku bertanya siapa saja penghuni panti asuhan itu, siapa yang mendirikan, dan kapan panti asuhan ini berdiri. Ibu penjaga itu menjawab dengan ramah, kebetulan panti asuhan ini dibangun anak saya mbak, disini ada yang  anak jalanan yang yatim piatu, ada yang sakit dan ditinggal begitu saja dirumah sakit, dan beberapa anak yang menjadi korban pengedaran narkoba lalu orangtuanya mengusirnya dari rumah - katanya. 

    Mendengar penjelasan ibu itu saya langsung tersentuh, lalu ibu itu bertanya kepadaku siapa yang memberitahunya panti asuhan ini padahal tempatnya yang ada di desa dan panti asuhan itu jarang diketahui orang. Aku pun menjawab bahwa aku mengetahui panti asuhan ini dari seorang pria yang memberiku brosur panti asuhan ini. Sontak ibu itu menjawab, brosur apa mbak ? anak saya tidak pernah menyebar brosur selama ini, untuk pembangunan panti asuhan ini dia tidak pernah menyebar brosur. Aku hanya bisa mengucap maaf dan mengatakan bahwa memang aku mendapat brosur panti asuhan ini dari seseorang.

   Kemudian seorang pria datang dan mengucap salam menghentikan perbincanganku dengan ibu itu. Ku alihkan pandanganku ke arah pria yang baru datang itu. Ternyata yang datang adalah . . . . 



To be Continou. . . .
  

Aku bukan pilihan

Aku bukan pilihan Jika kamu menempatkanku pada posisi itu Maaf kau tak akan mendapatkanku Sekali saja kamu dibuat bingung atas sebuah piliha...