Sabtu, 11 Januari 2020

RASA YANG TERBRANGKAS


           Aku hanyalah insan yang tak mengerti arti cinta secara sempurna. Bagi mereka cintaku padamu sempurna, tapi bagiku tidak sesempurna itu. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa mengharap balasan rasa darimu atau bahkan rasa cinta. Aku tak pernah mengungkapkan rasa sederhana ini karena kau tak akan menghiraukan apa yang kurasa. 7 tahun sudah kita bersama dalam jarak dan 5 tahun sudah kita berpisah dalam jarak. Aku tetap saja dengan rasa yang sama walau tanpa komunikasi seintensif dahulu kala.
            Konon, waktu kita masih bersama dalam jarak, aku cukup menemanimu saat kau susah maupun bahagia. Aku terima saat kau datang dengan seribu luka dan aku berusaha mengobatinya. Walau banyak diantara mereka yang juga mengobati luka yang kau derita aku tiada menyerah, bagiku mengobati lukamu adalah kewajianku. Konsekuensi dari rasa yang kusimpan lama adalah aku harus melindungimu dari jarak jauh sekalipun.
            Aku takkan mampu melihatmu menangis walau hanya satu tetes air mata, hingga terkadang aku menjauh darimu karena aku tidak mau kau melihatku terluka. Saat kau terluka begitu dalam, akulah orang yang hampir dijemput ajal akan pedihnya luka yang kau rasakan. Seakan lupa bahwa saat kau bahagia aku mungkin menjadi orang kesekian juta dari orang yang kau beri kabar akan kebahagiaanmu, aku tak mengapa. Aku sadar bahwa aku hanyalah satu diantara ribuan orang yang ingin menjadi berarti dihidupmu. Aku tahu aku bukanlah manusia sempurna.
            Jarak dan waktu mulai sedikit menjadi alasan kau jarang mengabariku akan keadaanmu. Bahkan aku tidak mengerti lagi apa yang telah kau lalui dan apa yang kau jadikan impian dimasa yang akan daang.  Dulu, kita akan bersama ditempat yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Namun, kiranya harapan ini semakin dalam luka pun semakin dalam kurasakan. Betapa tidak kecawa, waktu pun tidak bisa mengubahnya. Waktu semakin bertambah jarak pun semakin bertambah, komunikasi semakin berkurang dan harapan ini mulai terkikis derasnya ombak keadaan.
            Dulu sempat kau katakan, “bagaimana jika aku dan kau menemukan seseorang yang masing-masing kita cintai dan orang itu bukan kita sendiri, apakah kita harus berpisah ? dengan alasan menjaga perasaan orang yang kita cintai tersebut.” Aku hanya menjawab tidak tahu, karena aku tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Sejenak setelah perkataanmu tersebut aku mulai berfikir apakah kau sudah menemukan seseorang yang membuat hatimu terpaut. Seketika aku takut kehilanganmu. Apakah waktu yang kita lalui bersama tidak cukup membuat hatimu terikat pada satu hati yang menunggumu ini. Waktu yang kuhabiskan bersamamu telah kuhabiskan untuk membuatmu tersenyum dan terikat. Namun tak sedikitpun kau terikat ? aku kecewa terhadap waktu bagaimana bisa? aku sudah menyewanya lama untuk membuatnya terikat tapi malah ada orang lain yang hanya meminjam sedikit waktu darinya mampu membuatnya berkata seperti itu padaku.
            Beberapa hari setelah pertanyaanmu tersebut aku tidak mengabarimu walau hanya sebentar. Bahkan aku mulai tak menghiraukan telfonmu. Aku tak mengerti apa yang kulakukan kala itu. Aku tidak berusaha menghindarimu, mungkin aku hanya sedikit berusaha merelakan jika keadaan itu benar terjadi. Selang beberapa waktu aku memang tidak bisa berpura-pura menjauh darimu. Akupun kembali membalas chattingmu mengangkat telfonmu dan kembali bercerita akan keseharianku. Hingga aku lupa akan luka yang pernah kau lakukan tanpa kau sengaja .
            Disaat aku lupa bahwa aku pernah terluka hingga saat itu mungkn aku paling bahagia daripada waktu-waktu yang telah kulalui sebelumnya. Aku bahagia karena bisa menghabiskn waktu 24 jamku dengamu ditempat yang aku suka. Beberapa jam setelah aku berpisah denganmu aku mendapati sosial mediamu memosting sesuatu yang telah kita lewati hanya saja dengan caption sederhana “terimakasih atas waktunya”. Aku menanggapi hal tersebut dengan biasa. Beberapa menit kemudian kau membuat story dimedia sosialmu bahwa kau mengupload foto seorang wanita dengan caption “jika perjuangan tak lagi dihiraukan mungkin ini saatnya diam dan berhenti dipersimpangan”
            Aku tidak bisa berkata-kata, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya terdiam. Inilah jawaban waktu akan pertanyaanmu kala itu. Ada seseorang yang sedang kau perjuangkan dalam diamku memendam perasaan. Akhirnya aku menenangkan diriku dengan sejuta kata yang kuuntai sendiri. Tenang far, jika kau mencintainya kau tidak akan kecewa dengan keputusannya. kau harus sabar seperti kau dengan ikhlas memendam perasaan berahun-tahun lamanya. Jangan kau hancurkan kesabaranmu dalam mencintainya hanya karena orang yang tidak bisa kau salahkan karena telah hadir dihidupnya. Hidup orang yang kau cinta. Kini aku tetap dengan rasaku yang sederhana, tanpa menuntutnya bersamaku. Mencoba mengobati luka yang kutorehkan sendiri. 

ef_ai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku bukan pilihan

Aku bukan pilihan Jika kamu menempatkanku pada posisi itu Maaf kau tak akan mendapatkanku Sekali saja kamu dibuat bingung atas sebuah piliha...