Waktu itu aku sedang belajar ilmu agama disuatu majelis. Seperti biasa aku mengikuti kajian itu dengan niat untuk menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, dan mensyukuri ni'mat Alloh atas aql yang diberikan. Ketika acara selesai aku beranjak meninggalkan majelis menuju rumah. Tanpa disengaja, Diparkiran ada seseorang didepanku yang kunci mobilnya terjatuh dibawah kakiku. Aku tidak melihat bahwa aku menginjak kunci mobilnya kemudian pria itu berkata "Maaf mbak, kunci saya" sambil menunjuk ke kaki ku. Kemudian aku mengambilnya dan memberikan kepada pria itu dan meminta maaf. Pria itu tersenyum dan mengatakan bahwa itu bukan salah saya semua karena ketidaksengajaan. Aku pun membalas senyumnya seraya mengucap salam dan berlalu meninggalkannya.
Ditengah perjalanan pulang, bensin motorku hampir habis sehingga aku harus berhenti untuk mengisi bensin. Seperti pembeli bensin lainnya, aku langsung mengatakan aku ingin membeli bensin senilai sekian ribu. Ketika sudah terisi, aku mencari dompetku dan ternyata tidak kutemukan dompet itu ditasku. Karena aku merasa aku lupa membawa dompet aku meminggirkan motorku terlebih dahulu sembari mencari lembaran uang yang harus kubayarkan. Tiba-tiba penjaga SPBUnya bilang padaku kalau uang bensinnya sudah dibayar. Aku kaget, aku tidak merasa membayarnya. Lalu kutanyakan ke penjaga SPBU itu siapa yang membayarnya. Bapak itu mengatakan bahwa seseorang di samping mobil itu yang membayarnya(sambil menunjuk ke arah seorang pria).
Kebetulan yang luar biasa, pria yang membayari bensinku adalah pria yang kuncinya ku injak tadi. Ketika aku melihatnya dari jauh dia tersenyum dan hendak masuk mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Seketika aku langsung berjalan menghampirinya untuk berterima kasih. Ketika aku disamping mobilnya, dia tersenyum dan meminta maaf karena dia telah lancang membayar uang bensinku. Aku yang merasa tidak enak hanya bisa berkata "maaf merepotkan, boleh aku minta nomer rekeningmu? biar nanti aku transfer uang yang kau bayarkan tadi".
Tanpa berkata apa-apa dia membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah brosur di kursi mobilnya.
Dia : Maaf mbak, sumbangkan saja uang mbak ke sini (sambil memberikan brosur panti asuhan), mereka lebih membutuhkan
Aku : Tapi, aku harus mengembalikan uangmu dulu
Dia : Aku tidak memberi uang itu mbak, tapi aku berbagi. Jadi lupakan saja.
Aku : Tidak bisa begitu dong mas.
Dia : Mbak datang saj ke panti asuhan itu(sambil beranjak masuk mobil dan meninggalkanku yang masih tidak enak hati)
Sebulan setelah itu aku mengikuti kajian lagi dimajelis itu. Ketika pulang dan berada diparkiran aku teringat pria itu. Kemudian Aku mengambil kunci di tas, dan yang kulihat adalah brosur panti asuhan yang waktu itu dia berikan padaku. Tiba-tiba aku ingin mengunjungi panti asuhan itu. Tanpa berpikir lama, ku kendarai motorku menuju alamat yang tertera di brosur itu. Sesampainya aku diasana, aku masuk dan menuju kantor informasinya. Disana aku bertanya siapa saja penghuni panti asuhan itu, siapa yang mendirikan, dan kapan panti asuhan ini berdiri. Ibu penjaga itu menjawab dengan ramah, kebetulan panti asuhan ini dibangun anak saya mbak, disini ada yang anak jalanan yang yatim piatu, ada yang sakit dan ditinggal begitu saja dirumah sakit, dan beberapa anak yang menjadi korban pengedaran narkoba lalu orangtuanya mengusirnya dari rumah - katanya.
Mendengar penjelasan ibu itu saya langsung tersentuh, lalu ibu itu bertanya kepadaku siapa yang memberitahunya panti asuhan ini padahal tempatnya yang ada di desa dan panti asuhan itu jarang diketahui orang. Aku pun menjawab bahwa aku mengetahui panti asuhan ini dari seorang pria yang memberiku brosur panti asuhan ini. Sontak ibu itu menjawab, brosur apa mbak ? anak saya tidak pernah menyebar brosur selama ini, untuk pembangunan panti asuhan ini dia tidak pernah menyebar brosur. Aku hanya bisa mengucap maaf dan mengatakan bahwa memang aku mendapat brosur panti asuhan ini dari seseorang.
Kemudian seorang pria datang dan mengucap salam menghentikan perbincanganku dengan ibu itu. Ku alihkan pandanganku ke arah pria yang baru datang itu. Ternyata yang datang adalah . . . .
To be Continou. . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar