Ketika aku melihatnya, ternyata dia adalah seorang yang kutemui di pom bensin. Dia tersenyum padaku dan menuju ke ibu itu kemudian mencium tangannya. Apa kabar bu? kata laki-laki itu. Ibunya pun hanya tersenyum bahagia melihatnya datang mengunjunginya.Aku pun mengatakan pada ibu itu bahwa laki-laki itulah yang memberiku brosur panti asuhan ini. Lalu dengan sopan, laki-laki ini membantah perkataanku. Maaf, saya tidak pernah memberikan brosur apapun ke anda, apalagi brosur panti asuhan ini, katanaya.
Perbincangan itu berlanjut hingga akhirnya laki-laki itu terdiam. Dia berkata bahwa dia memang bertemu denganku namun disalah satu majelis ta'lim di surabaya, bukan di pom bensin. Dengan sabar ku menceritakan bahwa setelah kita bertemu di majelis itu, aku membeli bensin di SPBU dan aku lupa membawa uang dan bensin yang ku beli dibayar olehnya. Ketika aku berterima kasih dia memberiku brosur panti asuhan ini. Kemudian laki-laki itu terdiam, ibunya pun ikut masuk ke pembicaraan kami. Sudah jangan dibahas lagi, sebenarnya apa maksud kedatangan mbak kesini, tanya ibu tersebut. Aku pun mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke panti asuhan ini. Dengan sangat ramah ibu ini menyambut baik niat saya.
Setelah urusanku di panti asuhan ini selesai, aku berpamitan kepada ibu itu dan beranjak pergi meninggalkan panti asuhan itu. Aku pun masih terfikir tentang laki-laki itu, apa dia lupa telah menolongku, tanyaku dalam hati. Aku pun kembali ke rumah dan membaca kembali brosur panti asuhan itu. Mungkin dia memang tidak mengingat-ingat kebaikan yang telah dia lakukan, gumamku dalam hati. Aku pun melupakan semua pertanyaan itu dari ingatanku.
Keesokan harinya, aku berangkat ke taman wisata yang ada di Surabaya. Sungguh kebetulan yang sangat aneh, aku bertemu laki-laki itu di Taman Wisata tersebut. Aku hanya melontarkan senyum kepadanya dan berlalu. Laki-laki itu mengikuti langkahku dan bertanya padaku,
Dia : Mbak, apa kabar ? ketemu lagi
Aku : baik, kan kemarin kita sudah bertemu
Dia : maaf, kita bertemu? kemarin? dimana ?
Aku : aku hanya terdiam dan menghentikan langkahku
Dia : kenapa mbak, kita bertemu dimana kemarin? kok mbak tidak menyapaku?
Aku : Entah aku yang terlalu mengingatnya, atau kamu yang tidak mengingat apapun yang telah kau lewati
Dia : maksudnya, bagaimana ya mbak
Aku : lupakan saja, aku tidak ingin membahanya
Dia : boleh saya menemani mbak disini ?
Aku : maaf, aku kesini ingin menenangkan diri, hanya sendiri
Dia : tapi, saya ingin sedikit berbagi sama mbak
Aku : aku tidak lupa bawa dompet, dan aku tidak lagi butuh brosur panti asuhan
Dia : itu tandanya, mbak mengizinkan saya menemani mbak
Aku : Maaf ya, apa kamu punya sakit ? pelupa misalnya?
Dia : Menurut saya, saya adalah orang yang baik dalam hal mengingat, bahkan untuk hal kecil yang mungkin orang lain lupakan.
Aku : Lalu, keamarin kau mengatakan bahwa kau tidak pernah memberi brosur panti asuhan itu kepadaku? kau yakin kau baik dalam hal mengingat?
Dia : ini kedua kalinya kita ketemu mbak, setelah di SPBU tersebut
Aku : pertama, kita bertemu di majelis ta'lim, kedua kita ketemu di SPBU, ketiga di Panti Asuhan, dan sekarang di taman ini . Mungkin ingatanku lebih baik darimu.
Aku bergegas pergi meninggalkannya. Bagaimana mungkin dia melupakan hal itu padahal menurut dia, dia adalah orang yang paling baik dalam hal mengingat. Dia pun mengejarku dan mengatakan bahwa dia mengerti sekarang. Dia terus mengikuti langkahku sembari menceritakan bahwa yang aku temui di majelis ta'lim dan di panti asuhan itu adalah kakaknya. Dia bercerita bahwa dia adalah anak kembar yang terlahir sebagai adik. Dia bercerita bahwa kakaknya memang sering ikut majelis ta'lim tersebut. Seketika aku terdiam dan menghentikan langkaku.
Aku pun duduk disalah satu kursi taman dan bertanya padanya tentang apa yang dia jelaskan tadi. Dia pun meminta maaf karena membuatku kesal dengan cerita ini. Aku yang tadinya berfikir bahwa laki-laki ini menjengkelkan seketika aku dapat menerima semua penjelasan dia. Inilah kenapa laki-laki di panti asuhan itu tidak mengenalku dan menolak keras bahwa dia memberiku brosur ini, karena memang bukan dia orangnya.
Kami pun berkenalan disana dan bercerita tentang kisah kemarin yang membuatku bingung. Namanya adalah Akhdan dan kakaknya adalah Arghib . Di taman itu kita bercerita panjang lebar dan berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dia Akhdan adalah dokter disalah satu rumah sakit swasta di surabaya. Kami jadi lebih sering bertemu setelah kami berbagi cerita saat itu. Hari demi hari yang ku lalui dengannya semakin membuatku nyaman kepada akhdan.
Satu bulan kemudian Akhdan mengutarakan niat baiknya untuk lebih serius melanjutkan hubungan ini, dia ingin segera menikahiku. Aku belum bisa menjawab pertanyannya karena aku masih berfikir ada cita-citaku yang belum terwujud. Tiba-tiba ponselku berbunyi, dan ternyata yang menelfonku adalah ibu. Sudah nak, terima saja ibu juga ingin segera melihatmu menikah, kata ibu ku di telfon tersebut. Aku kaget dan bertanya dalam hati, darimana ibu tahu. Telfon dari ibuku pun berakhir.
Aku sudah kerumahmu kemarin, orangtuamu setuju dan mereka merestui pernikahan kita, bagaimana denganmu ? kau mau? , tanyanya dengan penuh harap. "Jika orangtuaku sudah merestui, aku siap menjadi pelabuhan terakhirmu" jawabku sambil tersenyum.
To be continou . . . .
Selasa, 20 Maret 2018
Kamis, 15 Maret 2018
Pertama Ku Kenal dia
Waktu itu aku sedang belajar ilmu agama disuatu majelis. Seperti biasa aku mengikuti kajian itu dengan niat untuk menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, dan mensyukuri ni'mat Alloh atas aql yang diberikan. Ketika acara selesai aku beranjak meninggalkan majelis menuju rumah. Tanpa disengaja, Diparkiran ada seseorang didepanku yang kunci mobilnya terjatuh dibawah kakiku. Aku tidak melihat bahwa aku menginjak kunci mobilnya kemudian pria itu berkata "Maaf mbak, kunci saya" sambil menunjuk ke kaki ku. Kemudian aku mengambilnya dan memberikan kepada pria itu dan meminta maaf. Pria itu tersenyum dan mengatakan bahwa itu bukan salah saya semua karena ketidaksengajaan. Aku pun membalas senyumnya seraya mengucap salam dan berlalu meninggalkannya.
Ditengah perjalanan pulang, bensin motorku hampir habis sehingga aku harus berhenti untuk mengisi bensin. Seperti pembeli bensin lainnya, aku langsung mengatakan aku ingin membeli bensin senilai sekian ribu. Ketika sudah terisi, aku mencari dompetku dan ternyata tidak kutemukan dompet itu ditasku. Karena aku merasa aku lupa membawa dompet aku meminggirkan motorku terlebih dahulu sembari mencari lembaran uang yang harus kubayarkan. Tiba-tiba penjaga SPBUnya bilang padaku kalau uang bensinnya sudah dibayar. Aku kaget, aku tidak merasa membayarnya. Lalu kutanyakan ke penjaga SPBU itu siapa yang membayarnya. Bapak itu mengatakan bahwa seseorang di samping mobil itu yang membayarnya(sambil menunjuk ke arah seorang pria).
Kebetulan yang luar biasa, pria yang membayari bensinku adalah pria yang kuncinya ku injak tadi. Ketika aku melihatnya dari jauh dia tersenyum dan hendak masuk mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Seketika aku langsung berjalan menghampirinya untuk berterima kasih. Ketika aku disamping mobilnya, dia tersenyum dan meminta maaf karena dia telah lancang membayar uang bensinku. Aku yang merasa tidak enak hanya bisa berkata "maaf merepotkan, boleh aku minta nomer rekeningmu? biar nanti aku transfer uang yang kau bayarkan tadi".
Tanpa berkata apa-apa dia membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah brosur di kursi mobilnya.
Dia : Maaf mbak, sumbangkan saja uang mbak ke sini (sambil memberikan brosur panti asuhan), mereka lebih membutuhkan
Aku : Tapi, aku harus mengembalikan uangmu dulu
Dia : Aku tidak memberi uang itu mbak, tapi aku berbagi. Jadi lupakan saja.
Aku : Tidak bisa begitu dong mas.
Dia : Mbak datang saj ke panti asuhan itu(sambil beranjak masuk mobil dan meninggalkanku yang masih tidak enak hati)
Sebulan setelah itu aku mengikuti kajian lagi dimajelis itu. Ketika pulang dan berada diparkiran aku teringat pria itu. Kemudian Aku mengambil kunci di tas, dan yang kulihat adalah brosur panti asuhan yang waktu itu dia berikan padaku. Tiba-tiba aku ingin mengunjungi panti asuhan itu. Tanpa berpikir lama, ku kendarai motorku menuju alamat yang tertera di brosur itu. Sesampainya aku diasana, aku masuk dan menuju kantor informasinya. Disana aku bertanya siapa saja penghuni panti asuhan itu, siapa yang mendirikan, dan kapan panti asuhan ini berdiri. Ibu penjaga itu menjawab dengan ramah, kebetulan panti asuhan ini dibangun anak saya mbak, disini ada yang anak jalanan yang yatim piatu, ada yang sakit dan ditinggal begitu saja dirumah sakit, dan beberapa anak yang menjadi korban pengedaran narkoba lalu orangtuanya mengusirnya dari rumah - katanya.
Mendengar penjelasan ibu itu saya langsung tersentuh, lalu ibu itu bertanya kepadaku siapa yang memberitahunya panti asuhan ini padahal tempatnya yang ada di desa dan panti asuhan itu jarang diketahui orang. Aku pun menjawab bahwa aku mengetahui panti asuhan ini dari seorang pria yang memberiku brosur panti asuhan ini. Sontak ibu itu menjawab, brosur apa mbak ? anak saya tidak pernah menyebar brosur selama ini, untuk pembangunan panti asuhan ini dia tidak pernah menyebar brosur. Aku hanya bisa mengucap maaf dan mengatakan bahwa memang aku mendapat brosur panti asuhan ini dari seseorang.
Kemudian seorang pria datang dan mengucap salam menghentikan perbincanganku dengan ibu itu. Ku alihkan pandanganku ke arah pria yang baru datang itu. Ternyata yang datang adalah . . . .
To be Continou. . . .
Minggu, 04 Maret 2018
Di ujung waktu
.
Anggap tulisan ini adalah tulisan kalian, . Selamat membaca dan ucapkan amin pada kalimat tertentu
Hidupku bukanlah hidup yang indah
atau bahkan lurus lurus saja, di hidupku ada kelok, ada liku, ada batuan, ada
sungai, lembah jurang, bahkan laut sekalipun yang bisa saja aku terjun disana
saat aku capek dengan semua perjalanan ini, tapi aku memilih melewati dan terus
melewatinya, karena untuk kembali kebelakang aku melihat senyum dari orangtuaku
yang diamatanya ada sinar harapan akan kesuksesanku. Untuk belok kesamping ada
orang-orang yang tersenyum melihatku walau beberapa diantara mereka ada yang
tidak tulus dalam untaian senyumnya, namun aku tahu mungkin senyum yang
terpaksa itu ada karena ada kataku yang membuatnya terluka. Namun dibalik semua
rasa itu aku berharap kelak aku dapat membahagiakan mereka walau tidak terlalu
lucu namun aku ingin mengukir senyum diwajah mereka karena perbuatanku,karena
keberdaaanku.
Tuhan, Aku punya mimpi sederhana namun sangat berharga. Aku ingin
menggandeng kedua tangan orang tuaku untuk mendatangi rumahMu dan makam
kekasihMu. Aku ingin bersama mereka dalam memenuhi rukun itu.
Tuhan, jangan sampaikan waktuku
sebelum aku mewujudkan mimpi itu atau jika waktuku memang sudah habis hamba
mohon, kirimkan seseorang yang menggantikan hamba mewujdkan impian itu, aku
sangat berharap jika itu adikku, karena ibuku akan tersenyum bahagia menjalani
semua itu, jika bukan adiiku aku berharap itu dari orang yang menyayangiku atau
kusayangi tanpa syarat. Mungkin banyak dari mereka tidak tahu apa makna dari
impianku ini. Yang kuinginkan bukanlah air mata haru dari kedua orang tuaku
karena aku berhasil membawa mereka melengkapi rukun islam mereka, namung yang
kuingin adalah aku bisa menjadi perantara kedua orangtuaku untuk masuk kesurga
atau melengkapi rukun islam mereka. Aku satu-satunya anak perempuan mereka,
mereka sangat berhati-hati menjagaku. Tuhan, hamba ingin bisa menjadi anak
perempuan mereka yang bisa menolong mereka dari perihnya api neraka. Walau aku
tahu aku sendiri tidak akan mampu menopang dosaku yang lebih tinggi dari gunung
yang lebih luas dari samudera. Oleh karena itu Tuhan, di ujung waktuku ini
ijinkan aku menghapus semua dosa-dosaku, memperbanyak dzikr terhadapmu baik sir
maupun jahr.
Tuhan, perjalananku sudah buruk dan
berliku dan tidak indah karena penuh dosa, namun hamba ingin perjalananku
indah, mulus dan baik di akhir hayatku. Aku ingin menjadi salah satu hambaMu
yang memulai kehidupan akhiratnya dengan catatan husnul khotimah. Aku ingin
menjadi salah satu hambaMu yang sangat
dekat dengan namaMu hingga engkau
mengingatku walau dengan segala malu hamba berharap bisa menjadi hamba yang kau
rindukan, dirindukan surga, dan dirindukan Muhammad. Hamba malu namun dengan
segala dosa hamba hamba ingin mengharap pertolonganMu Tuhan, Tolong orang
tuaku, dan adik-adikku. Jika kami berlima dalam nerakaMu hamba mohon selamatkan
dulu orang tua hamba, karena merekalah aku melakukan kebaikan, kedua
selamatkanlah adik-adiku karena merekalah aku belajar bersabar dan belajar
menjadi orang tua yang harus selalu bijak dan sabar, dan karena hamba
sendirilah dosa-dosa ini ada.
Kumohon Tuhan, aku sayang mereka,
aku sayang keluargaku, teman-temanku, dan segenap orang yang mengajarkan ku aku
arti kehidupan.
Terimakasih
Tuhan, Terimakasih Muhammad. . Terimakasih orangtuaku, terimakasih keluargaku.
Jumat, 02 Maret 2018
Hati diujung penantian
ucapan itu kembali menyayat hati..
sang pujaan yang dinanti, telah menjadikan mulutnya sebagai duri..
duri dihati sesorang yang mengagumi..
Aku tiada lagi berarti. .
Bagimu, aku hanya cerita yang kini tak berarti. .
Tiada guna lagi membahas masalah ini. .
Kau ucapkan itu dengan sepolos hati. .
Kamu berbeda. .
Kamu sang juara. .
Juara penyayat hatiku, yang sekarang entah harus bagaimana ku melupakanmu. .
Wahai yang pernah hadir dihidupku. .
Kau bukanlah sosok yang sama dengan sosok diluar sana, kau indah namun keindahan itu kini tak lagi nampak dihatiku . .
Ku ingin menghapus semua rasa ini, bukan aku , tapi waktu.
aku ingin dengan alasan waktu inilah semua kenangan itu hilang,.
Tapi, bertahun-tahun ku nikmati penantian ini, hanya ada ilusi yang semakin melukai hati. .
Kau tak lagi disisi. . Kau tak lagi menemani. .
Kau bukan yang dulu lagi. .
Hatiku telah sampai di ujung penantian, dimana aku harus terus melangkah tanpa menjadikanmu sebagai alasanku berhenti lagi. .
Cukup melupakanmu sebagai semua alasanku saat ini adalah hal yang mungkin susah bagiku, .
Namun, layaknya mentari yang harus pergi untuk indahnya sang rembulan,.
Kuharap kepergianku dapat membuatmu bahagia,. Hingga aku melihat jutaan bintang diantara kalian.
Ku sadari penantian ini salah, . penantian ini tak bermakna,.....
sang pujaan yang dinanti, telah menjadikan mulutnya sebagai duri..
duri dihati sesorang yang mengagumi..
Aku tiada lagi berarti. .
Bagimu, aku hanya cerita yang kini tak berarti. .
Tiada guna lagi membahas masalah ini. .
Kau ucapkan itu dengan sepolos hati. .
Kamu berbeda. .
Kamu sang juara. .
Juara penyayat hatiku, yang sekarang entah harus bagaimana ku melupakanmu. .
Wahai yang pernah hadir dihidupku. .
Kau bukanlah sosok yang sama dengan sosok diluar sana, kau indah namun keindahan itu kini tak lagi nampak dihatiku . .
Ku ingin menghapus semua rasa ini, bukan aku , tapi waktu.
aku ingin dengan alasan waktu inilah semua kenangan itu hilang,.
Tapi, bertahun-tahun ku nikmati penantian ini, hanya ada ilusi yang semakin melukai hati. .
Kau tak lagi disisi. . Kau tak lagi menemani. .
Kau bukan yang dulu lagi. .
Hatiku telah sampai di ujung penantian, dimana aku harus terus melangkah tanpa menjadikanmu sebagai alasanku berhenti lagi. .
Cukup melupakanmu sebagai semua alasanku saat ini adalah hal yang mungkin susah bagiku, .
Namun, layaknya mentari yang harus pergi untuk indahnya sang rembulan,.
Kuharap kepergianku dapat membuatmu bahagia,. Hingga aku melihat jutaan bintang diantara kalian.
Ku sadari penantian ini salah, . penantian ini tak bermakna,.....
Langganan:
Komentar (Atom)
Aku bukan pilihan
Aku bukan pilihan Jika kamu menempatkanku pada posisi itu Maaf kau tak akan mendapatkanku Sekali saja kamu dibuat bingung atas sebuah piliha...
-
Tentang seseorang yang menjaga dirinya dari tersentuh yang bukan jodohnya kelak. Dia adalah seseorang yang nggk mau tangan dan wajahnya ters...
-
Waktu itu aku sedang belajar ilmu agama disuatu majelis. Seperti biasa aku mengikuti kajian itu dengan niat untuk menuntut ilmu, menghil...
