Beberapa hari ini aku tak bisa mendengar panggilan dari yang kucinta. Aku selalu tak mendengar akan panggilannya, sering kali aku berfikir kenapa seperti ini?. Kenapa aku tak bisa mendengar panggilannya lagi. Berbagai cara tlah kucoba agar aku dapat menemuinya, mencoba tetap sadar agar aku bisa berjumpa dengan Dia, aku berusaa tidak menutup mataku agar aku dapat menemuiNya kalaupun aku tak bisa mendengar panggilanNya, aku dalam keadaan tersadar.
Teringat ku akan ucapan seorang ustadz "orang yang tidak bisa terbangun dimalam hari itu karena maksiat yang dia lakukan dipagi hari ". Beberapa hari ini aku menjaga diriku agar tidak melakukan maksiat. Hingga selalu terbayang difikiranku, dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku tak mendengar panggilannya. Setiap ku melukai hati seseorang aku berusaha langsung minta maaf kali ini. Namun, tetap dalam fikiranku terngiang akan dosa yang telah kuperbuat hingga membuatku tak dapat mendengar panggilanNya lagi.
Beberapa hari ini aku mengganti gambar latar belakang telfonku dengan foto seseorang yang kukagumi. Aku hanya senang jika setiap ku membuka telfon genggamku ada dia disana, motivatorku. Aku tak mengenal dia memang, dan dia juga tak mengenalku. Layaknya seseorang yg mengagumi seorang artis. Namun, yang kukagumi bukanlah orang yang terkenal hingga tak banyak yang mengetahui siapa dia. Ketenaran dia bukanlah masalah bagiku, aku hanya mengaguminya.
Pagi ini aku kuliah seperti biasanya. Berangkat ke kampus, kuliah, dan praktikum. Saat mengerjakan tugas di laboratorium aku membicarakan perihal kuliah kerja profesi dengan temanku. Kami membahas tentang perjinan untuk menjalankan kkp tersebut. Aku menghubungi dosen pembimbingku melalui whatsapp . Seketika temanku mengambil telfon genggamku untuk melihat jawaban dari dosen pembimbig kita . Ketika dia membuka telfonku, yang pertama kali dia lihat adalah wallpaper telfonku yakni foto dia. Seketika dia mengatakan "foto siapa itu chah, zina mata kamu" . aku hanya menjawab ringan "foto orang yg kukagumi, anggap saja artis korea yang dikagumi kebanyakan cewek". dia pun melanjutkannya "sama aja, maksiat mata kamu . orang Vivi aja kularang buat masang wallpaper artis korea lagi. kalau misal fotoku nggak papa, kan nanti aku akan menghalalkannya". seketika aku terdiam.
Maksiat mata ? Aku sering melihat wajahnya ? tiap kali aku menatap layar telfon genggamku, aku melihatnya ? aku maksiat ? . Tuhan, terimakasih . . . Ternyata ini jawabannya. Walaupun dalam hatiku juga tidak membenarkan ucapan temanku tadi yang terkesan tak apa jika kelak akan dihalalkan. Menurutku kelak dihalalkan atau tidak, ya sama saja sekarang itu hukumnya maksiat. Iya kalau misal kelak dia memang jodohnya ? kalau tidak ? mereka kini bersama adalah apa kalau tidak maksiat ? ikhtiyar agar kelajadi halal ? J9odoh ditangan tuhan loh, ikhtiyar apa yang kamu lakukan, hanya menambah dosa. yag kesannya kita nggk pacaran kok. Tapi ada ikatan dengan ucapan kelak akan kulamar, dan kini kebersamaan sering terjadi .
Terlepas dari bagaimana pribadi seseorang yang mengatakan itu kepadaku, aku membenarkan apa yag dia ucapkan. Karena memang benar undzur maa qiila walaa tandzur man qoola . Lihat apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakan. Aku tidak peduli apakah dia yang menyalahkanku itu dalam keadaan yang tidak benar . Itu urusan dia, dia mengetahui bahwa itu tidak benar tapi tetap dilakukan, itu bukan urusan saya. Namun, dalam hati aku bersykur, melalui orang ini saya sadar akan kesalahanku. Dan mungkin dia adalah cara tuhan menyampaikan kerinduannya akan kelu kesaku, hingga aku sadar dan kembali menemuiNya dikala dunia telah sunyi.
Berarti selama aku memasang fotonya menjadi wallpaper telfonku, itu berarti setiap aku menatap layar telfon genggamk aku maksiat, aku berzina . Ternyata, mungkin ini sebab beberapa hari ini aku sering tak menemuiNya dikesepianku. Kini, aku mengganti lagi wallpaper ku dengan hal lain yang bersifat motivasi. Semoga disaat dunia telah sunyi, kita dapat menemui kekasih kita dalam keadaan bahagia, aamiin.
Sekian tulisan kali ini, jika ada kesamaan naama atau cerita saya mohon maaf. Terimakasih sudah membaca.



