Aku hanyalah insan yang tak mengerti arti cinta secara sempurna.
Bagi mereka cintaku padamu sempurna, tapi bagiku tidak sesempurna itu. Aku
mencintaimu dengan sederhana, tanpa mengharap balasan rasa darimu atau bahkan
rasa cinta. Aku tak pernah mengungkapkan rasa sederhana ini karena kau tak akan
menghiraukan apa yang kurasa. 7 tahun sudah kita bersama dalam jarak dan 5
tahun sudah kita berpisah dalam jarak. Aku tetap saja dengan rasa yang sama
walau tanpa komunikasi seintensif dahulu kala.
Konon, waktu kita
masih bersama dalam jarak, aku cukup menemanimu saat kau susah maupun bahagia. Aku terima saat kau datang dengan seribu luka dan aku berusaha
mengobatinya. Walau banyak diantara mereka yang juga mengobati luka yang kau
derita aku tiada menyerah, bagiku mengobati lukamu adalah kewajianku.
Konsekuensi dari rasa yang kusimpan lama adalah aku harus melindungimu dari
jarak jauh sekalipun.
Aku takkan mampu
melihatmu menangis walau hanya satu tetes air mata, hingga terkadang aku menjauh
darimu karena aku tidak mau kau melihatku terluka. Saat kau terluka begitu
dalam, akulah orang yang hampir dijemput ajal akan pedihnya luka yang kau
rasakan. Seakan lupa bahwa saat kau bahagia aku mungkin menjadi orang kesekian
juta dari orang yang kau beri kabar akan kebahagiaanmu, aku tak mengapa. Aku
sadar bahwa aku hanyalah satu diantara ribuan orang yang ingin menjadi berarti
dihidupmu. Aku tahu aku bukanlah manusia sempurna.
Jarak dan waktu
mulai sedikit menjadi alasan kau jarang mengabariku akan keadaanmu. Bahkan aku
tidak mengerti lagi apa yang telah kau lalui dan apa yang kau jadikan impian
dimasa yang akan daang. Dulu, kita akan
bersama ditempat yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Namun, kiranya
harapan ini semakin dalam luka pun semakin dalam kurasakan. Betapa tidak
kecawa, waktu pun tidak bisa mengubahnya. Waktu semakin bertambah jarak pun
semakin bertambah, komunikasi semakin berkurang dan harapan ini mulai terkikis
derasnya ombak keadaan.
Dulu sempat kau
katakan, “bagaimana jika aku dan kau menemukan seseorang yang masing-masing
kita cintai dan orang itu bukan kita sendiri, apakah kita harus berpisah ?
dengan alasan menjaga perasaan orang yang kita cintai tersebut.” Aku hanya
menjawab tidak tahu, karena aku tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi.
Sejenak setelah perkataanmu tersebut aku mulai berfikir apakah kau sudah
menemukan seseorang yang membuat hatimu terpaut. Seketika aku takut
kehilanganmu. Apakah waktu yang kita lalui bersama tidak cukup membuat hatimu
terikat pada satu hati yang menunggumu ini. Waktu yang kuhabiskan bersamamu
telah kuhabiskan untuk membuatmu tersenyum dan terikat. Namun tak sedikitpun
kau terikat ? aku kecewa terhadap waktu bagaimana bisa? aku sudah menyewanya
lama untuk membuatnya terikat tapi malah ada orang lain yang hanya meminjam
sedikit waktu darinya mampu membuatnya berkata seperti itu padaku.
Beberapa hari
setelah pertanyaanmu tersebut aku tidak mengabarimu walau hanya sebentar.
Bahkan aku mulai tak menghiraukan telfonmu. Aku tak mengerti apa yang kulakukan
kala itu. Aku tidak berusaha menghindarimu, mungkin aku hanya sedikit berusaha
merelakan jika keadaan itu benar terjadi. Selang beberapa waktu aku memang
tidak bisa berpura-pura menjauh darimu. Akupun kembali membalas chattingmu mengangkat
telfonmu dan kembali bercerita akan keseharianku. Hingga aku lupa akan luka
yang pernah kau lakukan tanpa kau sengaja .
Disaat aku lupa
bahwa aku pernah terluka hingga saat itu mungkn aku paling bahagia daripada
waktu-waktu yang telah kulalui sebelumnya. Aku bahagia karena bisa menghabiskn
waktu 24 jamku dengamu ditempat yang aku suka. Beberapa jam setelah aku
berpisah denganmu aku mendapati sosial mediamu memosting sesuatu yang telah
kita lewati hanya saja dengan caption sederhana “terimakasih atas waktunya”.
Aku menanggapi hal tersebut dengan biasa. Beberapa menit kemudian kau membuat
story dimedia sosialmu bahwa kau mengupload foto seorang wanita dengan caption
“jika perjuangan tak lagi dihiraukan mungkin ini saatnya diam dan berhenti
dipersimpangan”
Aku tidak bisa
berkata-kata, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya terdiam. Inilah jawaban
waktu akan pertanyaanmu kala itu. Ada seseorang yang sedang kau perjuangkan
dalam diamku memendam perasaan. Akhirnya aku menenangkan diriku dengan sejuta
kata yang kuuntai sendiri. Tenang far, jika kau mencintainya kau tidak akan
kecewa dengan keputusannya. kau harus sabar seperti kau dengan ikhlas memendam
perasaan berahun-tahun lamanya. Jangan kau hancurkan kesabaranmu dalam
mencintainya hanya karena orang yang tidak bisa kau salahkan karena telah hadir
dihidupnya. Hidup orang yang kau cinta. Kini aku tetap dengan rasaku yang
sederhana, tanpa menuntutnya bersamaku. Mencoba mengobati luka yang kutorehkan
sendiri.
ef_ai