Jumat, 10 April 2020

meraba taqdir

Tentang seseorang yang menjaga dirinya dari tersentuh yang bukan jodohnya kelak.
Dia adalah seseorang yang nggk mau tangan dan wajahnya tersentuh pria sembarangan, bahkan teman dekat sekalipun.
Banyak temen pria yang mengatakan padanya untuk tidak sok sok an seperti itu, perempuan itu hanya tersenyum melihatnya
Jauh dalam hati si perempuan, kau tidak akan pernah tau kenapa aku seperti ini sampai kau jadi seorang perempuan.
Perempuan ini memang bukan dari keluarga yang begitu faham agama, namun dia menyadari kekurangan itu, hingga dia menjaga dirinya dari perbuatan yang kelak akan mencerminkan anak turunnya, atau jauh sebelum itu, jodohnya.
Ya, perempuan itu teramat yakin akan janji Alloh yang akan memberikan jodoh yg baik untuk seseorang yang baik, pun jodoh yang menjaga diri untuk yang menjaga diri.
Rasanya perempuan itu punya keinginan yang teramat dalam akan masalah jodoh, yakni yang seperti dirinya, yang menjaga untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis tanpa udzur yang benar benar urgent atau tidak sengaja
Perempuan itu menutup diri untuk setiap pria yang datang padanya, namun sikap dia yang aktif di sosial media membuat dia terkesan terbuka terhadap siapa saja yang datang untuk mengenalnya
Satu per satu pria memahami bagaimana perempuan tersebut, dari yang mulai diberi penjelasan hingga yang peka sendiri.
Hingga musim pernikahan tiba, satu per satu temannya menikah, dia pun menghadiri sebagai tamu undangan.
Disalah satu acara pernikahan itu dia berfoto bersama dengan pengantin, kemudian salah satu temannya meminta bunga melati yang dikalungkan di pengantin pria, pengantin pria itu memberikannya ke perempuan tersebut, seketika temannya mengatakan bahwa perempuan tersebut akan segera tertular, kata mitos yang beredar.
Mendengar pernyataan itu, perempuan tersebut memberikan bunga itu ke temannya.
Selepas acara itu, ia melupakan mitos tersebut dan kembali ke rumah.
Keesokan harinya ia menonton tv dirumah, kemudian ibunya mendatangi dengan memulai membuka obrolan.
"Ada seorang ibu yang menanyakanmu nak, mau tidak kalau nikah dengan anaknya, ibuk kira dia bercanda tapi ternyata tidak" ibunya mulai bertanya dengan sedikit bergurau
dia pun hanya bisa tertawa, sambil berfikir dalam hati "haduh, masak iya karna mitos itu".
Seketika obrolan itu berakhir tanpa jawaban dan dia pergi mengerjakan tugas kuliahnya.
Berhari hari setelah pertanyaan itu, dia terus saja terbebani oleh itu. "Masak iya ini cara Tuhan menyatukanku dengan jodoh, apa iya dia jodohku" dia bergumam sendirian tanpa tindakan dan jawaban.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada anak si ibuk yang memintanya nikah dengan anaknya.
Perlahan tapi pasti, dia mendapatkan jawaban itu, namun dia tidak tau mana kebohongan dan mana kejujuran.
Faktnya, pria tersebut mengatakan bahwa dia yakin ikut dengan pilihan ibunya, toh pria tersebut juga pernah menyukai perempuan tersebut. Dengan jawaban "bismillah aku yakin, aku faham nikah itu serius, dan aku ikut pilihan ibuku"
Entah mengapa dia(perempuan tersebut) pun menjawab "bismillah aku mau kalau begitu". Namun dia masih menyimpan banyak tanya, karena dia belum mengenal dekat dengan pria itu, mulai dari sikap, perilaku, hal2 yang mungkin tidak bisa diterima jika kelak jadi menikah.
salahnya, dia menjawab seperti itu tanpa istikhoroh dulu, pikir2 dulu, seperti jawaban spontan yang langsung terucapkan.
Akhirnya disetiap sholat dia hanya meminta pada Tuhan, jika memang pria tersebut adalah jodohnya, dia meminta agar dijaga dari perbuatan maksiat sebelum mereka halal, dan dipermudahkan agar segera halal. Namun jika pria tersebut bukan jodohnya, dia meminta agar diberi petunjuk dan diberikan kelapangan dada untuk menerima kenyataan itu di hati semua pihak yang terlibat, termasuk ibu dari pria tersebut.
Perempuan itu semakin hari semakin tau bahwa banyak hal atau hampir semua sikap dari pria itu tidak disukainya.
Hingga akhirnya dia berfikir akan masa depannya, tentang menikah dengan orang yang sangat tidak disuka sikapnya.
Diapun bertanya tentang sikap pria kepada teman prianya yang dipercaya, hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa dia tidak akan bisa merubah sikap pria itu menjadi yang ia mau.
Akhirnya, dia memutuskan untuk memberanikan diri membuka diskusi dengan pria tersebut.
Dipertengahan diskusi tersebut, dia mengutarakan bahwa dia ingin mencabut semua pernyataan dia untuk masa depan mereka, namun pria tersebut seperti tidak menghendaki namun juga memberi pernyataan yang membuat perempuan itu yakin untuk meninggalkannya "aku pasti bisa berubah, tapi kalau sekarang aku belum bisa" katanya.
Perempuan itu tersadar bahwa pria tersebut hanya main2 dengan pernyataannya dulu, lalu mengapa dia harus serius menanggapinya.
Dia seperti tersadar bahwa menghadapi pria tersebut dia menjadi sangat beda, yang dulu dia cuek, nggk percaya samaomongan pria, males bicarain hal serius, itu semua menjadi kebalikannya ketika menghadapi pria tersebut.
Kini, dia kembali menjadi dirinya yang dulu, yang terkesan tidak pernah serius, cuek masalah cinta, dan menjaga diri dan hatinya untuk yang akan halal baginya.
Perempuan itu kini sadar, mungkin itu cara Tuhan mengajarkan bahwa tidak semua orang hadir untuk dia, terkadang dia hadir untuk mereka.
Dia berusaha melupakan semua pernyataannya pada pria itu dan membuang rasa bersalah karena telah membuka diri untuk pria yang tidak baik menurutnya.
Sekian, to be continou...

Sabtu, 11 Januari 2020

RASA YANG TERBRANGKAS


           Aku hanyalah insan yang tak mengerti arti cinta secara sempurna. Bagi mereka cintaku padamu sempurna, tapi bagiku tidak sesempurna itu. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa mengharap balasan rasa darimu atau bahkan rasa cinta. Aku tak pernah mengungkapkan rasa sederhana ini karena kau tak akan menghiraukan apa yang kurasa. 7 tahun sudah kita bersama dalam jarak dan 5 tahun sudah kita berpisah dalam jarak. Aku tetap saja dengan rasa yang sama walau tanpa komunikasi seintensif dahulu kala.
            Konon, waktu kita masih bersama dalam jarak, aku cukup menemanimu saat kau susah maupun bahagia. Aku terima saat kau datang dengan seribu luka dan aku berusaha mengobatinya. Walau banyak diantara mereka yang juga mengobati luka yang kau derita aku tiada menyerah, bagiku mengobati lukamu adalah kewajianku. Konsekuensi dari rasa yang kusimpan lama adalah aku harus melindungimu dari jarak jauh sekalipun.
            Aku takkan mampu melihatmu menangis walau hanya satu tetes air mata, hingga terkadang aku menjauh darimu karena aku tidak mau kau melihatku terluka. Saat kau terluka begitu dalam, akulah orang yang hampir dijemput ajal akan pedihnya luka yang kau rasakan. Seakan lupa bahwa saat kau bahagia aku mungkin menjadi orang kesekian juta dari orang yang kau beri kabar akan kebahagiaanmu, aku tak mengapa. Aku sadar bahwa aku hanyalah satu diantara ribuan orang yang ingin menjadi berarti dihidupmu. Aku tahu aku bukanlah manusia sempurna.
            Jarak dan waktu mulai sedikit menjadi alasan kau jarang mengabariku akan keadaanmu. Bahkan aku tidak mengerti lagi apa yang telah kau lalui dan apa yang kau jadikan impian dimasa yang akan daang.  Dulu, kita akan bersama ditempat yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Namun, kiranya harapan ini semakin dalam luka pun semakin dalam kurasakan. Betapa tidak kecawa, waktu pun tidak bisa mengubahnya. Waktu semakin bertambah jarak pun semakin bertambah, komunikasi semakin berkurang dan harapan ini mulai terkikis derasnya ombak keadaan.
            Dulu sempat kau katakan, “bagaimana jika aku dan kau menemukan seseorang yang masing-masing kita cintai dan orang itu bukan kita sendiri, apakah kita harus berpisah ? dengan alasan menjaga perasaan orang yang kita cintai tersebut.” Aku hanya menjawab tidak tahu, karena aku tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi. Sejenak setelah perkataanmu tersebut aku mulai berfikir apakah kau sudah menemukan seseorang yang membuat hatimu terpaut. Seketika aku takut kehilanganmu. Apakah waktu yang kita lalui bersama tidak cukup membuat hatimu terikat pada satu hati yang menunggumu ini. Waktu yang kuhabiskan bersamamu telah kuhabiskan untuk membuatmu tersenyum dan terikat. Namun tak sedikitpun kau terikat ? aku kecewa terhadap waktu bagaimana bisa? aku sudah menyewanya lama untuk membuatnya terikat tapi malah ada orang lain yang hanya meminjam sedikit waktu darinya mampu membuatnya berkata seperti itu padaku.
            Beberapa hari setelah pertanyaanmu tersebut aku tidak mengabarimu walau hanya sebentar. Bahkan aku mulai tak menghiraukan telfonmu. Aku tak mengerti apa yang kulakukan kala itu. Aku tidak berusaha menghindarimu, mungkin aku hanya sedikit berusaha merelakan jika keadaan itu benar terjadi. Selang beberapa waktu aku memang tidak bisa berpura-pura menjauh darimu. Akupun kembali membalas chattingmu mengangkat telfonmu dan kembali bercerita akan keseharianku. Hingga aku lupa akan luka yang pernah kau lakukan tanpa kau sengaja .
            Disaat aku lupa bahwa aku pernah terluka hingga saat itu mungkn aku paling bahagia daripada waktu-waktu yang telah kulalui sebelumnya. Aku bahagia karena bisa menghabiskn waktu 24 jamku dengamu ditempat yang aku suka. Beberapa jam setelah aku berpisah denganmu aku mendapati sosial mediamu memosting sesuatu yang telah kita lewati hanya saja dengan caption sederhana “terimakasih atas waktunya”. Aku menanggapi hal tersebut dengan biasa. Beberapa menit kemudian kau membuat story dimedia sosialmu bahwa kau mengupload foto seorang wanita dengan caption “jika perjuangan tak lagi dihiraukan mungkin ini saatnya diam dan berhenti dipersimpangan”
            Aku tidak bisa berkata-kata, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya terdiam. Inilah jawaban waktu akan pertanyaanmu kala itu. Ada seseorang yang sedang kau perjuangkan dalam diamku memendam perasaan. Akhirnya aku menenangkan diriku dengan sejuta kata yang kuuntai sendiri. Tenang far, jika kau mencintainya kau tidak akan kecewa dengan keputusannya. kau harus sabar seperti kau dengan ikhlas memendam perasaan berahun-tahun lamanya. Jangan kau hancurkan kesabaranmu dalam mencintainya hanya karena orang yang tidak bisa kau salahkan karena telah hadir dihidupnya. Hidup orang yang kau cinta. Kini aku tetap dengan rasaku yang sederhana, tanpa menuntutnya bersamaku. Mencoba mengobati luka yang kutorehkan sendiri. 

ef_ai

Aku bukan pilihan

Aku bukan pilihan Jika kamu menempatkanku pada posisi itu Maaf kau tak akan mendapatkanku Sekali saja kamu dibuat bingung atas sebuah piliha...