Minggu, 31 Maret 2019

Aku dan pola pikirku

Kali ini aku kembali menjalanai hari hari seperti biasa terjadi. Namun kali ini ada yg sedikit berbeda, ada seseorang yang selalu membuatku tertawa dengan tulisan tulisannya dari pesan pribadi aplikasi wa. Entah kenapa, dia yang dulu tidak akrab kini menghiasi hari-hariku begitu ceria. Berbagi cerita tentang hari yang telah terlewati masing-masing diantara kita. Membangun imajinasi konyol yang lucu dan gila. Awalnya biasa saja, berbicara, tertawa bersama, kemudian diam entah kenapa. Ya, aku diam. Aku menghilang. Ada satu hal yang tidak mungkin bisa ku terima adalah sifat yang mengutamakan gaya hidup. Kita sangatlah berbeda. Aku dengan keapaadaannya aku, kau dengan keadaapaannya kamu. Kau selalu mengunggulkan yang unggul, kau selalu memikirkan bagaimana orang melihatmu. Sedangkan aku, just do it and love it, I don't care penilaian orang terhadapku. Awalnya kita membangun perusahaan, kau managerku, tapi karena sebegitu berantakannya kau mengingat akan jadwalku aku ingin memecatmu. Sebelum aku memcatmu ternyata kita membangun kerajaan, kerajaan tikus. Dimana aku tikus, dan kau raksasa yang saat kau lapar aku harus menjauhimu. 
Maaf, aku mengatakan itu pertama kali kepadamu, itu peringatan bahwa aku akan menjauh. Untuk maaf yang kedua kalinya, aku benar-benar menjauh. Semua akun yang terhubung denganmu, seketika terputus, namun aku memang tak menghapusnya, karena aku tahu itu adalah cerita.
Pertanyaannya ? Kenapa aku menjauh dan menghilang. Pertanyaan yang dari awal muncul dong. Alasan ini, cukup menjawab untuk yang dulu dulu juga. Aku selalu pergi dan menjauh saat masa ciye ciyenya.
Seperti yang kau tahu, aku punya hati. Hati punya rasa. Rasa ada karena ada. Aku takut keberadaanmu menjadi candu, hingga aku selalu butuh akan hadirmu. Jika aku selalu membutuhkanmu,aku takut ketidakhadiranmu membuatku tak seceria dulu. Aku terlalu egois untuk hatiku, aku tak ingin hatiku terluka akan saat-saat itu, maka ku buat jalan buntu dari perjalanan kita, lalu aku menghilang. Mungkin kau tetap dijalan buntu itu, atau juga kau kembali ke posisi awal lewat jalan yang telah kita lewati, namun sendiri.
Maafkan aku, aku pergi karena aku sendiri, aku tak mauhatiku sedih karena tuntutan yang kelak akan ku minta darimu.
Aku mengahncurkan semuanya, karena aku tidak yakin akan rasa yang selalu sama tiap harinya, kecuali mereka yang benar-benar setia.
Awalnya, berat dan aku sedih. Aku sedih karena aku merasa terlalu jahat untuk mengakhiri, tapi aku harus begini, agar hati tetap terjaga dari rasa sedih. Maafkan aku sekali lagi.
Bukan aku menjadikanmu bahan tulisanku, namun karena kisah ini aku menulis.
Mengertilah aku menjauh karena aku takut kehilangan, lebih baik aku menghilang.
Aku memang egois.
Dan satu yang membuatku yakin untuk pergi adalah kau dekat dengan orang dimasa laluku, seketika aku mencemaskan kehadiranmu. Begitu banyak pikiran negatif tentang kehadiranmu saat ini begitu menyiksaku sendiri.
Maafkan aku, tulung diam dan lupakan semuanya. 

Bye

Rabu, 20 Maret 2019

Siapa yang salah

Aku punya hati, hati yang sepeti jelly, mudah pecah dan mudah tersakiti.
Hatiku pernah dimiliki, hingga terkadang rindu menghampiri.
Meski kini kita tak bersama lagi, ada harapan yg kerap datang menghampiri.
Harapan akan pemenuhan sebuah janji, atas kebersamaan setelah penantian ini.
Aku percaya bahwa takdir sudah ditetapkan oleh Yang Maha Pengasih.
Namun hati ini mengaminkan apa yg pernah tertulis dan terkirim lewat phonsel ini.
Kasih, jika sekarang aku merindukanmu siapa yang salah.
Kau yang telah berjanji, atau aku yang berharap lebih.
Kasih, tak apa hati ini sendiri, namun bahagiaku tetap masih tergantung atas keputusanmu nanti.
Rindu yang selama ini ku nikmati kini terasa begitu sesak memenuhi relung batin ini.
Pertanyaan yang selama ini kusimpan rapi, sekarang berantakan menuntut jawaban.
Aku masih sendiri, seperti waktu itu kau meminta jawaban pasti.
Jawaban yg ku beri, yang telah membuat jarak kini terjadi.
Aku masih dengan rasaku yang dulu, saat kau tertawa bersamaku disaksikan senja yang perlahan pergi.
Aku merindukanmu sang penjaga hati.
Penjaga hati dari si penakluk hati yang tak pasti.
Aku bersyukur karena telah menelan penantian hingga kini.
Hingga aku terjaga dari salahnya jatuh hati
Lagi


Kau masih di hati

Aku bukan pilihan

Aku bukan pilihan Jika kamu menempatkanku pada posisi itu Maaf kau tak akan mendapatkanku Sekali saja kamu dibuat bingung atas sebuah piliha...